[message_box title="'Apakah IPK/Nilai Akademis Tinggi Jaminan Cepat Diterima Kerja?'" color="red"][/message_box]

Pertanyaan di atas merupakan pertanyaan yang sangat sering diajukan oleh para pencari kerja, terutama yang baru lulus dan sedang memulai mencari kerja untuk pertama kalinya. Salah satu contohnya adalah pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta IndoGetJob berikut ini:

[message_box title="Komentar/pertanyaan dari Heri (peserta IndoGetJob):" color="green"]Terima kasih buat sertifikat dari get job apakah sertifikat tsb bs diperbaiki kembali atau mengikuti ulang dan membayar dg besaran yg sama?soaly nilai yg ada tidak terlalu sama dg hal yg riilnya ada,misal untuk education&intellectualist poin sy minus pdhl sy mahasiswa terbaik kampus dg ipk 3,98,di point organization sy minus pdhl sy jd ketua organisasi di 5 organisasi baik intra atau ekstra,mathematics minus padahal sy sk hitung2an n brgkat dr ipa,dll yg jwb asal2an malah nilaiy plus (+)..sy rasa untuk uji potensi sdm perlu banyak uji misal wawancara, skill, cv,dll dan bs mlihat hal lebihnya karena kadang apa yg ada di test tulis tsb blum tentu sm yg ada di lapangan dan kalaupun itu direkomendasikan ke perusahaan masih perlu banyak analisis dan variabel yg diperhitungkan..mohon pencerahannya soalnya saya ga puas sama nilainya neh..hehehehe maaf buat kritikannya..salam damai satu jiwa

Oiya sedikit sambungan nyambung comment di atas tadi di sertifikat get job ini kan nilai finance saya rendah dibanding nilai marketing,production,ataupun adminstrasi,padahal saya wisudawan terbaik kampus 2011 di bidang manajemen keuangan/finance lg,kan lucu ga korelasi akhirnya..yah klo direkomendasikan ke perusahan biar balance referensi yg ada,namun apresiasi buat get job dg adanya pelatihan tsb, ttp smngat dan sy tggu informasi dan pencerahannya..thanks[/message_box]

Bagaimanakah jawaban pertanyaan tersebut dari sudut pandang HRD (Human Resource Development) atau personalia? Artikel berikut ini akan memaparkan hubungan antara IPK (nilai akademis) dan kebutuhan dunia kerja.

Jawaban:

Terima kasih pada Mas Heri atas apresiasinya… sungguh pemikiran yang Luar Biasa, dan kami ucapkan SELAMAT & SUKSES atas predikat Mahasiswa Terbaik dengan IPK cukup tinggi dari hasil kerja keras dan ketekunan selama menempuh pendidikan akademis.

Sebelumnya kami sampaikan bahwa ada perbedaan karakteristik antara ilmu akademis pada Dunia Pendidikan dengan ilmu praktis pada Dunia Kerja, sehingga diperlukan seleksi atau tes pada saat proses penyerapan karyawan yang dilakukan oleh HRD (Human Resource Development) atau Personalia untuk mendapatkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan, mengingat investasi usaha yang tidak sedikit dan kepentingan eksistensi perusahaan secara jangka panjang.

IPK tinggi merupakan prestasi yang luar biasa, namun masih banyak aspek lagi yang harus dipertimbangkan oleh HRD atau Personalia untuk dapat menyerap SDM sebagai karyawan, sehingga penilaian HRD atau Personalia sangatlah komprehenship mulai dari Latar Belakang Pendidikan (Education), IQ, Minat – Bakat, Prilaku, dll. Karena HRD atau Personalia menggunakan prinsip “Ketepatan menempatkan SDM pada posisi yang benar akan menghasilkan produktivitas yang tinggi”

Mungkin pertanyaan berikut ini akan membantu mas Heri atau pencari kerja lainnya untuk bisa lebih memahami perbedaan karakteristik ilmu akademis Dunia Pendidikan dengan ilmu praktis Dunia Kerja, pertanyaannya adalah:

  1. Apakah IPK tinggi merupakan JAMINAN untuk segera diterima kerja?
  2. Apakah IPK sedang SULIT untuk segera diterima kerja?
  3. Apakah IPK rendah TIDAK BISA diterima kerja?

Ok, sekarang kami jelaskan satu-persatu pemikiran Mas Heri (dan juga kebanyakan pencari kerja lainnya).

1. Pemikiran: nilai education and intellectualist minus, padahal IPK 3,98

Penjelasan:

Dasar penilaian education and intellectualist adalah :

  • Education, yaitu penilaian Pendidikan Formal (misal. lulusan S-1) dan penilaian Pendidikan Non Formal, yang akan dihitung berdasar digit level dari mulai lulusan SMA sederajat sampai dengan S-3
  • Intellectualist, yaitu penilaian IQ yang terdiri dari 49 soal dengan tingkat kesulitan yang variatif

Dan apabila hasil kurang memuaskan, rata-rata dipengaruhi dari hasil jawaban soal tes IQ, yang mungkin pada saat mengerjakan kurang fresh/tegang/tergesa-gesa/dll.

2. Pemikiran: nilai organization minus, padahal telah menjadi ketua di 5 organisasi

Penjelasan:

Dasar penilaian organisasi merupakan perpaduan dengan penilaian pengalaman kerja, dan apabila hasil kurang memuaskan karena dipengaruhi oleh lama waktu pengalaman kerja dimana digit levelnya adalah 1 tahun sampai dengan 10 tahun ke atas dengan bidang pekerjaan yang sama

3. Pemikiran: nilai mathematic minus, padahal suka hitung-hitungan dan dari jurusan IPA

Penjelasan:

Dasar penilaian matematik berjumlah 18 soal hitung, logika dan analog, dan apabila hasil kurang memuaskan pada saat mengerjakan kurang fresh/tegang/tergesa-gesa/dll.

4. Pemikiran: soal yang dijawab asal-asalan malah nilainya plus

Penjelasan:

Karakteristik soal yang kami buat mencakup banyak aspek tentang screening diri peserta sebagai pencari kerja, di antaranya adalah soal dengan pemikiran, minat dan kebiasaan. Mungkin yang dimaksud dengan menjawab soal asal-asalan adalah soal yang berhubungan dengan minat atau kebiasaan. Memang soal seperti itu terkesan menjawab asal-asalan, karena pertanyaannya mengacu pada pola minat ataupun kebiasaan yang telah dilakukan secara berulang-ulang pada kehidupan sehari-hari, jadi tidak memerlukan kerja keras otak.

5. Pemikiran: nilai karakter bidang kerja finance lebih rendah dari nilai marketing, administrasi dan produksi, padahal jurusan yang diambil adalah Manajemen Keuangan dengan nilai terbaik

Penjelasan:

Hasil analisa yang mengacu pada karakter bidang kerja merupakan kesimpulan dari seluruh penilaian soal Uji Kelayakan Kerja/Uji Potensi SDM yang telah dianalisa, sehingga apabila tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang telah dimiliki disebabkan karena beberapa faktor, diantaranya adalah minat-bakat diri yang sesungguhnya kurang memiliki korelasi dengan jurusan pendidikan yang ditempuh. Dan inilah yang menjadi dasar utama penempatan posisi SDM yang benar pada bidang kerja yang sesuai, karena sangat berpengaruh dengan produktivitas SDM.

Contoh: banyak sarjana lulusan teknik tetapi bidang kerja yang digeluti adalah HRD atau Personalia, seperti pada beberapa HRD di perusahaan-perusahaan besar di Indonesia.

KESIMPULAN :

  1. Pada dasarnya tes recruitement tidak sama dengan tes akademis di Dunia Pendidikan, dan Uji Kelayakan Kerja / Uji Potensi SDM adalah standar tes recruitement
  2. Materi tes sangat komprehenship untuk menilai diri SDM, karena dasar berikut ini:
    Relevansi kompetensi kerja
  3. Tes Wawancara HRD merupakan pendalaman dari tes tulis HRD
  4. Tes Skill dan kemampuan keilmuan akademis merupakan tindak lanjut dari tes recruitement setelah dinyatakan LOLOS dengan Rekomendasi “DISARANKAN” oleh HRD / Personalia

SARAN :

  1. Bagi seluruh pencari kerja dan khususnya mas Heri, apabila ada kesempatan untuk tes tes recruitment di perusahaan manapun, persiapkan diri sebaik mungkin, mulai dari fresh-nya pikiran, mental, dan fisik. Karena kondisi diri sangat mempengaruhi hasil tes, terutama tes yang mengacu pada penilaian IQ, EQ dan Attitude.
  2. Tes recruitmen kerja tidak sama dengan tes akademis, dimana tes akademis memiliki kesempatan untuk mengulang apabila nilai tidak memenuhi, sedangkan tes recruitmen hanya memiliki satu kali kesempatan, sehingga harus dimanfaatkan dan dikerjakan semaksimal mungkin.
  3. Mulai melakukan penggalian potensi diri secara terus-menerus sesuai kebutuhan dan karakteristik Dunia Kerja, karena Dunia Kerja tidak sama dengan Dunia Pendidikan ataupun Dunia Kampus.
  4. Dunia Kerja lebih membutuhkan SDM yang mampu beradaptasi dengan cepat, mampu menerima instruksi ataupun perintah kerja, mampu menterjemahkan SOP dengan cepat dan tapat, mampu menjalankan tugas dan kewajiban secara sistimatis-terencana-terstruktur, mampu bekerja dengan target, mampu berkreatif dan berinovasi, mampu berkomunikasi dengan bijak, mampu melakukan supervisi setiap urutan pekerjaan yang dilakukan, mampu menerima kekurangan dan berintrospeksi diri, mampu bekerja dengan orang banyak dalam tim, mampu berbudaya kerja, dan mampu memberikan kontribusi produktif yang kondusif pada perusahaan. Bukan lagi berkutat pada kurikulum yang mengejar nilai dan tugas-tugas yang bersifat teks book.

Dari semua paparan diatas adalah dasar kami membuat program “INDOGETJOB” dengan Uji Kelayakan Kerja Bersertifikat, untuk dapat membantu secara signifikan pencari kerja dalam usahanya mendapatkan peluang kerja, yang mana pencari kerja memiliki 2 sertifikat dan informasi penting, yaitu :

  1. Sertifikat Akademis, berupa transkrip Nilai Akademis (Dunia Pendidikan) sebagai informasi kemampuan keilmuan
  2. Sertifikat Kelayakan Kerja, berupa transkrip Nilai Potensi SDM secara Analisis HRD (Dunia Kerja) sebagai informasi kemampuan profesionalisme.

Demikian penjelasan kami buat Mas Heri dan rekan pencari kerja lainnya. Dan apabila mas Heri memerlukan diskusi lebih detail dengan kami, kami bersedia meluangkan waktu. Silakan hubungi kami melalui email info@indogetjob.com.

Salam sukses!!!